Kamis, 31 Januari 2013

ikhlas?

IkhLas ?
                Ada suatu buku yang mengisahkan tentang gambaran orang yang memiliki niat iklas dan tidak iklas. Suatu saat Habib Husain bin abdullah al Haddad didatangi oleh seorang tamu. Tamu itu berkata pada beliau, “Habib, Saya ingin membangun masjid. “ Habib hanya berkata, “Luruskan dulu niat di hatimu.”

            “Habib, niat saya sudah lurus. Hati saya sudah iklas. Saya akan membangun masjid karena Allah,”Jawab orang tersebut.

            “Saya mau bertanya kepadamu. Jika kelak masjid sudah kau bangun dengan megah, banyak orang yang shalat berjamaaah di sana namun tidak ada satu orang pundiantara mereka yang mengetahui bahwa 
kamu yang membangun masjid itu. Nama mu tidak disebut – sebut sebagai pembangun masjid itu bagaimana?”

            Habib Husain bin Abdullah Al Haddad melihat keraguan pada diri orang tersebut. Ia terlihat kecewa jika nanti masjid selesai dibangun namun orang tidak mengingat jasannya. Lalu habib menyuruhnnya pulang.
            Beberapa waktu kemudian muncul orang lain yang mengemukakan maksud yang sama dengan orang yang pertama, mau membangun masjid ikhlas karena Allah.

            “Baiklah kalau demikian . Mana uang yang akan kau gunakan untuk membangun sebuah masjid. Biar uang itu ku bawa dan ku gunakan untuk membangun masjid agar kau tidak perlu repot-repot, yang penting masjid itu terbangun karena uang dari mu.”

            Orang itu terlihat kecewa. Jika ia menyerahkan uang tersebut maka orang tidak akan megetahui bahwa masjid itu dibangun karena uangnya. Tentu nanti yang terkenal adalah nama Habib. Melihat keraguan dari orang tersebut maka Habib menyuruhnya pulang.

            “Beberapa waktu kemudian muncul orang ketiga. Ia mengatakan hal yang sama dengan orang yang pertama dan kedua. Ia ingin membuat masjid, ikhlas karena Allah. Habib memberi nasihat yang sama dengan orang pertama dan kedua. Namun orang itu tetap bersikukuh untuk membangun masjid

            “Baiklah jika demikian , mana uang mu, serahkan pada ku. Akan kugunakan untuk apapun terserah aku. Apakah akan kugunakan unuk membangun masjid, membangun pesantren, kusedekahkan, atau malah ku makan sendiri, yang penting kelak di akhirat kamu mendapatkan pahala dari Allah sebagai orang yang telah membangun masjid.

            Orang tersebut terlihat ceria, tanpa ragu ia mengeluarkan uang yang dibawannya.”Ini Habib, tidak masalah Habib akan gunakan untuk apa. Yang penting besok aku mendapatkan pahala membangun masjid di sisi Allah,”kata orang itu.

            Habib Abdullah hanya tersenyum,”Aku tidak membutuhkan uang mu. Bawa kembali uang mu dan gunakan untuk membangun masjid sebagaimana yang telah kau niatkan. Aku hanya ingin menguji ketulusan hati mu saja.

           Teman apabila kamu diposisi dari cerita di Atas apa yang kamu lakukan apakah seperti orang pertama ke dua atau ketiga? Ikhlas itu sulit namun apabila kita bisa ikhlas akan banyak manfaat yang kita dapat. Jadi sudah ikhlas kah kita terhadap apa yang kita lakukan ?

Syafi’i Muhammad. 2010.9 Kekuatan Maha Dahsyat. Yogjakarta: Second Hope                                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar